25.6 C
Medan
18 May 2024
KORAN MEDAN
Home | Tantangan menghasilkan lulusan keperawatan yang berkualitas
Berita Utama

Tantangan menghasilkan lulusan keperawatan yang berkualitas

Visits: 2

Undang-undang Republik Indonesia No.36 tahun 2014 tentang Keperawatan merumuskan regulasi tentang penyelenggaraan pendidikan tinggi keperawatan. Standar nasional pendidikan keperawatan mengatur bahwa institusi pendidikan keperawatan wajib memiliki dosen yang berasal dari perguruan tinggi dan wahana pendidikan keperawatan. Dosen sebagaimana pada undang-undang tersebut diangkat dan diberhentikan oleh pejabat yang berwenang dan memiliki tugas, kewenangan, tanggungjawab, kewajiban dan hak sebagaimana ketentuan yang berlaku dalam peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan pendidikan tinggi keperawatan pada tahapan program profesi Ners biasanya menggunakan wahana pendidikan seperti rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, klinik kesehatan, dan pusat-pusat pelayanan kesehatan lainnya seperti panti jompo dan rumah bersalin.

Proses belajar-mengajar di wahana pendidikan sebagai bagian dari implementasi kurikulum pendidikan tinggi keperawatan bagi program sarjana keperawatan dan program profesi Ners yang telah ditetapkan oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) pada tahun 2015. Keberadaan dosen wahana pendidikan menjadi penting dalam proses ini, sehingga kualifikasi dan kompetensinya haruslah diperhatikan oleh pengelola program studi atau fakultas keperawatan guna mencapai tujuan pembentukan profil lulusan sarjana keperawatan.

Dosen Wahana Pendidikan Keperawatan

Merujuk pada undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dimana dosen disebut sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, secara umum dosen disebutkan wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pada pasal 46 ayat 2 disebutkan bahawa kualifikasi akademik minimum seorang dosen adalah lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan lulusan program doktor untuk program pascasarjana dari program studi yang terakreditasi.

Dosen wahana pendidikan adalah dosen yang melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar yang berasal dari wahana pendidikan khususnya pada tahapan pendidikan profesi Ners dapat berasal dari rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), dinas kesehatan, dan klinik kesehatan. Kulaifikasi dan kompetensi yang dimiliki haruslah mengacu pada persyaratan yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yakni UU RI no.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Dosen wahana pendidikan keperawatan juga harus memenuhi kualifikasi dan persyaratan kompetensi yang telah ditetapkan dalam peraturan tersebut, bedanya adalah mereka berasal dari wahana pendidikan tempat pelaksanaan praktik mahasiswa bukan dosen yang berasal dari perguruan tinggi, sehingga keberadaannya menjadi penting untuk menjadi role-model bagi mahasiswa pada saat melaksanakan praktik belajar di wahana pendidikan.

Pada kurikulum inti pendidikan ners disebutkan yang menjadi profil lulusan ners di Indonesia adalah : care provider (pemberi asuhan keperawatan), communicator (interaksi dan transaksi dengan klien, keluarga, dan tim kesehatan), educator  and health promotor (pendidikan dan  promosi kesehatan bagi klien, keluarga dan masyarakat), manager and leader (manajemen praktik/ruangan pada tatanan rumah sakit maupun masyarakat) dan researcher (peneliti). Profil ini diproses dengan  adanya proses tridharma perguruan tinggi yang berorientasi pada pencapaian hasil pembelajaran sesuai standar nasional pendidikan tinggi. Jika mengacu pada kualifikasi dan kompetensi dosen diatas maka proses menghasilkan profil lulusan tersebut sejalan yakni dengan menerapkan tridharma perguruan tinggi.

Pengelola program studi pendidikan tinggi keperawatan barangkali belum menyadari sepenuhnya akan pentingnya peran serta dan keberadaan dosen wahana pendidikan sehingga dalam impelmentasinya masih ditemukan adanya dosen wahana pendidikan yang belum memenuhi kualifikasi dan kompetensi sebagaimana ketentuan yang berlaku. Adapun yang sering yang dijadikan dosen wahana pendidikan adalah mereka yang dianggap memiliki pengalaman klinis saja berdasarkan lama pengalaman bekerja sebagai perawat. Alasan pengalaman kerja memang cukup masuk akal namun jika mengacu pada kriteria kualifikasi akademik dan kmpetensi tambahan yang ada maka hal itu belumlah cukup.

Sebagai role model, seorang dosen wahana pendidikan keperawatan di tempat praktik, tidak hanya diharuskan memiliki keterampilan klinis dalam melakukan tindakan keperawatan, namun termasuk didalamnya wawasan akademis, kemampuan belajar-menagajar, kemampuan menulis, kemampuan meneliti dan kemampuan lainnya dalam rangka mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan keterampilan keperawatan itu sendiri. Penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi juga menjadi kewajiban seorang dosen wahana pendidikan keperawatan, sehingga kewajibannya tidak hanya melakukan pengajaran klinis pada mahasiswa namun pengabdian pada masyarakat dan penelitian juga menjadi keharusan dalam melaksanakan tugas kesehariannya.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan program pendidikan tinggi keperawatan, maka dosen wahana pendidikan keperawatan juga bagian dari program studi penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan yang memiliki hak dan kewajiban sebagaimana dosen asal perguruan tinggi. Mereka menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan diera kurikulum merdeka belajar kampus merdeka saat ini yang menuntut adanya kreatifitas dosen maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bisa melibatkan wahana pendidikan non kesehatan, sehingga meskipun pendidikannya adalah keperawatan bisa jadi dosen wahana pendidikannya berasal dari profesi bukan kesehatan seperti : psikologi, ekonomi, hukum, teknik dan lain sebagainya.

Keberadaan dosen wahana pendidikan keperawatan dari berbagai latar belakang disiplin ilmu menjadi satu tantangan bagi pengelola program studi ilmu keperawatan guna mewujudkan lulusan keperawatan yang berkualitas dan siap memasuki dunia industri kesehatan. Tantangan ini harus dijawab dengan kajian yang mendalam untuk perekrutan dan pemberdayaannya sesuai dengan kualifikasi akademis dan kompetensi sebagai seorang dosen sebagaimana mestinya. Tantangan ini sekaligus menjadi wacana yang memberikan peluang bagi perawat dan profesi terkait lainnya untuk dapat mengembangkan kapasitas dan kemampuan dirinya agar siap menjadi seorang dosen wahana pendidikan keperawatan guna memenuhi kebutuhan akan program pembelajaran yang bermutu.

Perawat yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan memiliki kesempatan untuk mengembangkan karir tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas diri dalam memberikan pelayanan kepada pasien atau klien namun dapat juga meningkatkan kemampuan dalam menguasai kompetensi belajar-menagajar bersamaan dengan meningkatkan kualifikasi pendidikan. Dosen wahana pendidikan pada masa-masa mendatang menjadi area pengembangan bagi individu perawat dan juga bagi organisasi penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan guna mencapai tujuan dari kurikulum pendidikan tinggi keperawatan yang ada. Semoga tujuan akhirnya yakni menciptakan profil lulusan keperawatan yang berkualitas dengan luaran-luaran yang ditetapkan oleh masing-masing program studi dalam prosesnya akan lebih baik dengan adanya peran serta dari dosen wahana pendidikan keperawatan. (Muhammad Sukri Tanjung, S.Kep.,Ns & Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp.,MNS)

Berita Terkait