25.6 C
Medan
26 February 2024
KORAN MEDAN
Home | Dari Abdimas Dosen USU: Musik Pakpak Diupayakan Terjaga dan Lestari Melalui Inisiatif Sanggar Kasea
Berita Utama

Dari Abdimas Dosen USU: Musik Pakpak Diupayakan Terjaga dan Lestari Melalui Inisiatif Sanggar Kasea

Dari Abdimas Dosen USU: Musik Pakpak Diupayakan Terjaga dan Lestari Melalui Inisiatif Sanggar Kasea


SIDIKALANG: koranmedan.com

Di daerah yang kaya akan keberagaman budaya seperti Provinsi Sumatera Utara (Sumut), tepatnya di Sidikalang Kabupaten Dairi terdapat banyak suku, termasuk suku Batak Toba, Karo, Pakpak, Minang, Jawa, dan lainnya.

Menariknya, kebanyakan masyarakat di wilayah tersebut memiliki kemampuan menguasai dua bahasa utama secara bersamaan. Pakpak, salah satu dari delapan etnis lokal di Sumut, seringkali terpinggirkan dalam konteks budaya. Namun, budaya Pakpak memiliki unsur-unsur unik yang patut dipelajari, terutama dari sisi seni musiknya.

Sanggar Kasea yang dipimpin Tamsir Padang, adalah salah satu upaya yang berusaha melestarikan budaya Pakpak.
Namun, menurut Tamsir Padang, seorang seniman Pakpak yang tinggal di Sidikalang berpendapat, perhatian khusus seharusnya diberikan kepada bahasa Pakpak oleh Balai Bahasa.

Menurut Tamsir Padang, seharusnya istilah lokal Pakpak dituliskan dengan aksara Pakpak, bukan menggunakan alfabet Latin. Hal ini dikarenakan perbedaan makna dan penyampaian yang timbul akibat variasi nada dan intonasi di antara berbagai suku yang ada di Sumatera Utara.

Menurut Tamsir Padang, peran Balai Bahasa sangat penting dalam mempertimbangkan keberagaman bahasa daerah. Sebagai contoh, kata “gnderang” dinamakan berdasarkan nada ke-9 pada gendang, dan dalam bahasa Pakpak, penulisan aksara Pakpak akan mencerminkan nuansa yang lebih dalam dalam makna kata-kata seperti itu.

Sanggar Kasea sendiri didirikan pada tahun 2014 dengan modal pinjaman alat dan kreativitas dalam membuat alat musik dari kayu yang ada di hutan daerah Pakpak Bharat sekitarnya. Tujuan sanggar ini untuk mengembangkan dan melestarikan kebudayaan Pakpak secara lintas generasi.

Binaan Sanggar ini terdiri dari orang dewasa, remaja, dan anak-anak.

Hal ini menjadi perhatian beberapa akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) dengan tujuan mengangkat dan melestarikan budaya Pakpak melalui seni musik dan tari baik untuk kalangan umum maupun pendidikan.

Drs. Yoe Anto Ginting, MA, seorang Dosen Etnomusikologi di USU secara khusus menyoroti peran gendang dalam budaya Pakpak.

Anto Ginting menjelaskan, gendang dalam musik Pakpak tidak memainkan melodi, melainkan hanya ritme, yang juga berlaku untuk genderang Pakpak. Ini menjadi salah satu ciri unik dari seni musik Pakpak yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat luas.

Kegiatan ini muncul berawal dari inisiatif Drs. Yoe Anto Ginting, MA yang mengajar mata kuliah Praktik Musik Sumatera Utara di USU. Dia menyadari, mata kuliah tersebut tidak mencakup praktik musik dan tari dari 8 suku bangsa yang ada di Sumatera Utara, termasuk Pakpak. Oleh karena itu, tim pengabdian yang terdiri dari Dr. Irfan Simatupang, M.Si, Drs. Yoe Anto Ginting, MA, Drs. Lister Berutu, MA, dan Dr. Nurbaini Padang, M.Si berkolaborasi dengan Sanggar Kasea untuk mengembangkan kelas seni tari dan musik yang dapat melestarikan budaya Pakpak.

Salah satu rencana mereka adalah membuat rekaman lagu-lagu Pakpak yang disesuaikan untuk kebutuhan tari. Nada dasar akan disesuaikan dan diharmonisasi agar cocok dengan pertunjukan tari. Mereka juga berharap dapat bekerja sama dengan kreator lokal yang memiliki bakat untuk menghasilkan video musik yang dapat diunggah ke YouTube.

Musik Pakpak memiliki beragam iringan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti mengambil kemenyan, menangkap ikan, dan suara-suara alam seperti suara air. Lagu Odong-Odong, salah satu contoh lagu tradisional Pakpak, menjadi fokus pengembangan, dan Sanggar Kasea bersama tim pengabdian berencana memodifikasi dan mengimprovisasi lagu untuk berbagai keperluan, termasuk tarian dan vokal.

Dalam upaya menggabungkan unsur tradisional dengan musik modern, Sanggar Kasea berkolaborasi menciptakan karya-karya yang mencerminkan ciri khas Pakpak.

Musik Pakpak sering memiliki tempo yang cepat, dan selisih tempo dalam alat musik tidak dapat dibedakan oleh orang awam.

Melalui inisiatif Sanggar Kasea dan kolaborasi dengan Drs. Yoe Anto Ginting, MA, budaya musik Pakpak Sumatera Utara berupaya untuk terus dilestarikan dan dikembangkan.

Diharapkan upaya tersebut dapat membantu masyarakat lebih memahami kekayaan budaya yang ada di Sumatera Utara, khususnya dalam konteks seni musik Pakpak yang unik.*** (War)

Berita Terkait