Presiden Prabowo Diharapkan Dorong Penerapan Energi Bahan Bakar Hidrogen

ilustrasi mobil berbahan bakar hidrogen.
MEDAN: koranmedan.com
Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui kebijakan Presiden Prabowo diharapkan mendorong percepatan penerapan energi bahan bakar murah dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi hidrogen yang melimpah di Indonesia.
Harapan itu disampaikan pemerhati otomotif Ir. Amrin Syah, MM kepada Koranmedan.com di Medan, Senin (5/1/2026).
Diakui Amrin Syah, Pemerintah Indonesia sudah memiliki kerangka regulasi dan kebijakan yang mendukung pengembangan energi hidrogen, meskipun belum ada undang-undang khusus, tetapi diatur dalam peraturan yang lebih umum tentang energi baru terbarukan (EBT) seperti UU No. 30/2007 tentang Energi, PP No. 79/2014, dan Perpres No. 22/2017 (RUEN), dengan adanya dokumen strategis seperti Roadmap Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) yang menjadi pedoman pengembangan ekosistemnya menuju target Net Zero Emission 2060.
Bahkan, Kementerian ESDM, kata Amrin, sedang menyiapkan legal formal lebih spesifik termasuk klasifikasi dan standar.
Regulasi & Kebijakan
Dijelaskan Amrin Syah, Undang-Undang No. 30 Tahun 2007 tentang Energi (UU Energi): menjadi landasan utama mengategorikan hidrogen sebagai energi baru dan terbarukan yang perlu dikembangkan untuk ketahanan dan pembangunan berkelanjutan.
KemudianPeraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 (PP 79/2014): mengatur kebijakan energi nasional, termasuk strategi pemanfaatan energi baru seperti hidrogen untuk transportasi.
Juga ada Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 (RUEN): yang menetapkan Rencana Umum Energi Nasional yang memasukkan hidrogen sebagai solusi untuk mencapai target EBT nasional.
Strategi dan Roadmap
Terkait itu , kata Amrin, pemerintah RI seebenarnya telah menerbitkan Strategi Hidrogen Nasional (KTP) dan Roadmap Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) untuk panduan strategis pengembangan ekosistem hidrogen.
Arah Pengembangan
Terkait arah pengembangan, lanjut Amrin, tentunya berfokus pada energi hijau dengan prioritas pada “hidrogen hijau” (diproduksi dari EBT) sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi dan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Selain itu, kata Amrin, kesiapan regulasi Kementerian ESDM yang sedang menyusun regulasi lebih spesifik terkait legal formal, standar, dan klasifikasi (misal: hidrogen alami) untuk mendorong investasi perlu lebih dipercepat. Karena Jepang melalui industri otomotif Toyota sudah mengembangkan energi hidrogen untuk mesin mobil.
Adanya roadmap, kata Amrin Syah akan menambah kepastian bagi investor dalam membangun infrastruktur dan insentif guna mengembangkan ekosistem hidrogen.
Meskipun belum ada UU khusus hidrogen, lanjut Amrin, kerangka hukum yang ada sudah cukup kuat, dan Pemerintah melalui dorongan Presiden Prabowo harus proaktif menyusun dokumen strategis serta regulasi pendukung untuk mempercepat pengembangan energi hidrogen di Indonesia.
“Selain murah, energi hidrogen ini sangat dibutuhkan rakyat mengingat energi fosil atau minyak bumi di Indonesia semakin menipis dan harganya juga tergolong mahal dibanding di Malaysia. Saatnya Presiden Prabowo beserta jajaran berbuat yang terbaik untuk kebaikan rakyat,” pungkas Amrin Syah.
Untuk Diketahui
Energi hidrogen untuk mobil (disebut FCEV atau Fuel Cell Electric Vehicle) bekerja dengan menggabungkan hidrogen dan oksigen dalam sel bahan bakar (fuel cell) untuk menghasilkan listrik, yang kemudian menggerakkan motor listrik, dengan sisa produknya hanya uap air (nol emisi). Keunggulannya termasuk emisi nol, pengisian cepat, dan jangkauan jauh, menjadikannya alternatif bersih dari kendaraan BBM, meskipun infrastruktur dan biaya produksi hidrogen masih menjadi tantangan.
Cara Kerja Mobil Hidrogen (FCEV)
Penyimpanan: Hidrogen disimpan dalam tangki bertekanan tinggi di dalam mobil.
Fuel Cell: Hidrogen dialirkan ke fuel cell, di mana ia bertemu oksigen (dari udara) dan mengalami reaksi kimia.
Produksi Listrik: Reaksi ini memisahkan elektron dan proton. Elektron dialirkan melalui sirkuit eksternal untuk menghasilkan listrik (menggerakkan motor), sementara proton menembus membran khusus.
Hasil Akhir: Proton, elektron, dan oksigen bergabung kembali di sisi lain untuk menghasilkan air (H₂O) sebagai satu-satunya emisi, yang keluar melalui knalpot seperti uap air.
Keunggulan
Ramah Lingkungan: Menghasilkan nol emisi gas buang berbahaya, hanya uap air.
Pengisian Cepat: Waktu pengisian hidrogen lebih cepat dibandingkan mengisi baterai mobil listrik.
Jangkauan Jauh: Menawarkan jarak tempuh yang kompetitif, ideal untuk perjalanan jauh.
Performa Mirip Mobil Listrik: Memberikan pengalaman berkendara yang halus dan senyap seperti mobil listrik.
Tantangan
Infrastruktur: Keterbatasan stasiun pengisian hidrogen.
Biaya Produksi Hidrogen: Produksi hidrogen (terutama green hydrogen) masih mahal.
Efisiensi Rantai Energi: Secara keseluruhan, efisiensi dari produksi listrik hingga pengoperasian mobil masih lebih rendah dari mobil listrik baterai (BEV).
Perbandingan dengan Mobil Listrik (BEV)
Mobil Hidrogen (FCEV): Lebih baik untuk jarak jauh/komersial karena pengisian cepat; sumber energi utama adalah hidrogen.
Mobil Listrik (BEV): Lebih efisien, biaya operasional dan infrastruktur (charger) lebih siap untuk penggunaan harian di perkotaan.
Toyota adalah pionir mobil hidrogen dengan model andalannya Toyota Mirai (FCV – Fuel Cell Electric Vehicle) yang mengubah hidrogen menjadi listrik untuk menggerakkan motor, hanya menghasilkan air sebagai emisi, menawarkan jarak tempuh jauh dan pengisian cepat mirip bensin. Perusahaan ini aktif mengembangkan ekosistem hidrogen global, membangun Stasiun Pengisian Hidrogen (HRS), serta berinovasi pada mesin hidrogen baru yang lebih murah dan efisien untuk masa depan, sejalan dengan komitmen Net Zero Emission.
Toyota Mirai: Mobil Hidrogen Utama
Prinsip Kerja: Hidrogen dari tangki disimpan, lalu direaksikan dengan oksigen di “fuel cell stack” untuk menghasilkan listrik. Listrik ini menggerakkan motor listrik roda dan mengisi baterai kecil; satu-satunya emisi adalah uap air murni.
Keunggulan: Jarak tempuh panjang (hingga 850 km), pengisian sangat cepat (3-5 menit), dan bebas emisi berbahaya, menjadikannya solusi mobilitas bersih.
Pengembangan di Indonesia: Toyota sebenarnya telah memperkenalkan Mirai di Indonesia (seperti di IIMS 2025) dan membangun stasiun pengisian hidrogen (HRS) untuk mendukung ekosistem hidrogen lokal.
Visi dan Inovasi Toyota
Ekonomi Hidrogen
Toyota berupaya membangun infrastruktur hidrogen untuk mendukung ekonomi netral karbon, tidak hanya untuk mobil penumpang tetapi juga sektor lain.
Mesin Generasi Baru (2026)
Toyota sedang mengembangkan mesin hidrogen baru yang diklaim 50% lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan lebih hemat perawatan dibandingkan generasi saat ini, untuk mengatasi hambatan harga dan infrastruktur.
Fokus Net Zero Emission
Teknologi hidrogen dilihat sebagai solusi mobilitas masa depan di Indonesia karena melimpahnya sumber daya alam untuk memproduksi hidrogen.
Perbedaan dengan Mobil Listrik Baterai (BEV)
Sumber Energi: Mirai memproduksi listrik sendiri dari hidrogen, tidak mengandalkan baterai besar yang diisi dari luar seperti BEV (Battery Electric Vehicle).
Keuntungan: Jarak tempuh lebih jauh dan waktu pengisian jauh lebih singkat dibandingkan BEV.
Secara keseluruhan, Toyota melihat hidrogen sebagai bagian penting dari masa depan energi bersih dan terus berinvestasi dalam teknologi FCV untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.*** (Zulmar)