
MEDAN (Komen) – Banjir besar yang terjadi di kawasan Kota Medan dan sekitarnya, Jumat (4/12/2020) menuntut semua pihak untuk melakukan introspeksi. Hal itu dikemukakan pemerhati lingkungan yang juga Pimpinan Pusat Kajian (Institut) Sosial Engineering Dr. Muhammad Sontang Sihotang S.Si, M.Si menjawab KoranMedan.Online terkait banjir besar yang melanda sejumlah kawasan di Kota Medan sekitarnya.
Seperti diberitakan, kawasan daerah aliran sungai (DAS) Deli dan Sungai Kampung Lalang yang berhulu di pegunungan bukit barisan Sumatera Utara (Sumut), Jumat (4/12/2020) dini hari meluap sehingga merendam sejumlah dataran rendah Pantai Timur Sumut termasuk Kota Medan, Deli Serdang dan sekitarnya.
Banjir tersebut secara kasat mata, kata Muhammad Sontang Sihotang, disebabkan curah hujan yang tinggi di hulu sungai ditambah kondisi tanah hutan yang tak lagi kuat menyerap air yang turun. Hal ini berbanding lurus dengan kerusakan hutan dan degradasi dataran tinggi sebagai daerah resapan air.
Di sisi lain secara metafisika tasawuf, kata Muhammad Sontang, banjir yang terjadi merupakan ujian dan peringatan dari Allah Sang Pencipta Alam. Artinya Allah menyuruh manusia berfikir kenapa bisa terjadi banjir? Benarkah dipicu oleh kerusakan hutan dan degradasi daerah dataran tinggi atau ada musabab lain?
“Yang pasti Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an, ‘Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.” (QS Al-Baqarah: 11-12).
Selain itu, kata Muhammad Sontang, Al-Qur’an juga menyebutkan, sejumlah kaum dan tokoh yang melakukan perbuatan destruktif atau kezaliman di muka bumi. Seperti, bangsa Yahudi, kaum Tsamud, Yakjuj dan Makjuj, Fir’aun, Qarun, dan sederetan nama dan kaum lainnya. Mereka diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelaku atau agen kerusakan, al Mufsiduuna fil Ardh. Atau, dengan bahasa lain, az Zhalimun (orang-orang yang berbuat zalim).
Secara umum dan spesifik, lanjut Muhammad Sontang, Al-Qur’an juga menerangkan diversitas atau bentuk-bentuk kerusakan yang terjadi di atas bumi. Misalnya, merampas atau mencuri harta milik orang lain, baik pribadi maupun milik umum.
“Saudara-saudara Yusuf menjawab “Demi Allah sesungguhnya kamu mengetahui bahwa kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri (ini) dan kami bukanlah para pencuri”. (QS Yusuf: 73).
Menghalang-halangi manusia menuju jalan yang diridhai Allah, kata Muhammad Sontang, merupakan bentuk kerusakan di muka bumi juga
“Janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-A’raf: 86).
Menuruti hawa nafsu duniawi dengan gejalanya, seperti cinta dunia dan takut mati, budaya meterialistis, hedonis, tamak, dan seumpamanya, kata Muhammad Sontang, termasuk bagian berbuat kerusakan.
“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al-Qur’an) tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS Al-Mukminun: 71).
Lebih jauh, kata Muhammad Sontang, termasuk jenis kerusakan yang dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah sikap orang-orang Mukmin yang menjadikan orang-orang yang tidak seakidah sebagai pemimpin.
“ Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS Al-Anfal: 73).
Demikian juga kepongahan dan kesewenang-wenangan dengan segala indikatornya, seperti merancang konflik, penindasan, dan pembunuhan, kata Muhammad Sontang, adalah bentuk kerusakan yang sangat nyata.
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash: 4).
Mengutip penjelasan seorang pakar tafsir terkemuka pada era sahabat, Abdullah bin Mas’ud ketika menafsirkan ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 11-12 di atas mengatakan, yang dimaksud kerusakan di muka bumi dalam ayat ini adalah jalan kekufuran dan perbuatan maksiat.
Sehingga logis, kata Muhammad Sontang, apabila sejumlah ulama tafsir menarik sebuah kesimpulan bahwa kekufuran dan maksiat kepada Allah merupakan sumber kerusakan.
“Maknanya, status kufur dan maksiat adalah akar kerusakan yang menimbulkan kerusakan-kerusakan yang lain di atas bumi. Sebagaimana dikatakan salah seorang ahli tafsir, Imam Asy-Syaukani, bahwa perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan perbuatan maksiat atau dosa adalah sebab timbulnya berbagai kerusakan di alam semesta”. Demikian Muhammad Sontang Sihotang memaparkan.
Solusi jangka pendek, imbuh Muhammad Sontang, adalah dengan melakukan taubat kepada Allah SWT sembari beramal shaleh dan tidak lagi berbuat dosa. Insha Allah, Dia akan menurunkan rahmat ke bumi. *** (Zul Marbun)